Upacara Adat Aceh

Upacara Adat Aceh yang Masih Lestari Hingga Saat Ini

Upacara Adat Aceh – Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah provinsi yang terletak di Pulau Ujung Sumatera. Mayoritas penduduknya adalah beragama Islam dan tidak heran kalau provinsi ini dijuluki sebagai Serambi Mekah.

Selain itu, masyarakatnya juga sangat terkenal dengan keteguhan dalam menganut ajaran agama Islam. Tentu saja budaya atau adat istiadatnya tidak lepas dari budaya-budaya Islam. 

Kebudayaan Aceh sudah banyak diwarnai dengan nuansa Islam sebagai agama yang telah berperan banyak dalam sejarah Aceh. Tapi, walaupun begitu, warna budaya dan upacara-upacara adat Aceh dan seluruh tradisinya justru menambah keunikannya sendiri. 

Dari berbagai jenis kesenian dan budaya, upacara adat Aceh dengan berbagai ritual dan tradisi adalah satu aspek yang begitu kental dalam kehidupan bermasyarakat. 

Hal ini membuat upacara adat Aceh memiliki ciri khas dan makna khusus agar kita bisa mengetahuinya. Biasanya upacara adat dilakukan untuk perayaan-perayaan tertentu sebagai bentuk rasa syukur. 

Indonesia memiliki berbagai macam upacara adat yang berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan, suku dan wilayah. 

Upacara Adat Aceh

Berikut ini adalah upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Aceh adalah sebagai berikut:

1. Peusijuek

Peusijuek
sumberpost.com

Upacara Peusijuek adalah upacara adat yang masih dilakukan hingga saat ini, dalam budaya masyarakat Aceh. Upacara ini sangat mirip dengan tradisi Tepung Mawar dalam budaya Melayu. 

Upacara ini dilakukan oleh masyarakat pedesaan saat harapan seseorang tercapai. Misalnya memiliki sawah, memiliki kendaraan baru, memiliki rumah dan lain sebagainya.

Namun untuk masyarakat perkotaan dengan gaya hidup yang lebih modern, tradisi ini hanya dilakukan saat kegiatan adat saja seperti prosesi adat perkawinan.

Biasanya upacara ini dipimpin oleh tokoh agama atau tokoh adat setempat. Tokoh tersebut bisa pria maupun wanita yang dihormati karena ilmu agamanya.

Prosesi ini juga diisi dengan doa keselamatan dan kesejahteraan serta keberhasilan sesuai dengan ajaran Islam sebagai agama yang dianut oleh masyarakat Aceh.  

Baca Juga  Chord ST12 Rasa yang Tertinggal

Sehingga pemimpin upacara ini yang paling diutamakan dari mereka adalah yang cukup memahami dan menguasai hukum agama. 

Semua permohonan dan ungkapan rasa syukur ditujukan kepada Allah atas nikmat dan rahmat yang telah diberikannya.

2. Sumang

Sumang adalah tradisi dari suku Gayo di Aceh yang memiliki keunikan dalam pergaulan antara pria dan wanita. Tradisi ini adalah bagian dari budaya Gayo yang masuk ke dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. 

Upacara adat ini terdiri dari 4 jenis, yaitu Sumang Kenunulen, Sumang Percerakan, Sumang Pelangkahan dan Sumang Penengonen. Tujuannya adalah mendidik manusia supaya memiliki akhlak yang mulia dalam kehidupan bermasyarakat. 

3. Meugang

Meugang
promediateknologi.com

Meugang atau Makmeugang adalah sebuah tradisi yang sudah berlangsung selama 3 kali dalam setahun. Upacara adat ini melakukan proses penyembelihan hewan kurban seperti sapi atau kambing.

Biasanya hewan kurban yang disembelih bisa berjumlah ratusan, masyarakat sekitar akan memasak daging hasil sembelihan dan dibawa ke masjid supaya bisa dimakan bersama-sama. 

Upacara adat ini sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dan mengakar pada kehidupan masyarakat Aceh, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah karena sudah memberikan rezeki.

4. Kenduri Beureuat – Upacara Adat Aceh

Kenduri Beureuat
kaskus.id

Upacara adat Aceh yang satu ini adalah tradisi masyarakat Aceh yang dilakukan pada bulan nisfu Sya’ban (15 Sya’ban) dalam kalender hijriyah. Bulan Syaban juga dikenal dengan istilah bulan Khanduri Bu dalam penanggalan Aceh. 

Biasanya upacara ini dilakukan di masjid, mushola atau tempat-tempat pengajian selepas magrib atau isya. Kenduri ini diadakan dengan tujuan untuk menikmati bersama momen-momen pertengahan bulan Sya’ban dan menjelang bulan Ramadhan.

Biasanya semua masyarakat Aceh akan datang ke masjid membawa idang, yaitu sepaket makanan berisi nasi dan lauk pauk dalam sebuah wadah. Setelah itu, masyarakat akan menyantap makanan tersebut bersama-sama untuk menikmati berkah di bulan sya’ban.

Baca Juga  Mengenal Penggunaan Kata "Does" dalam Bahasa Inggris

5. Ritual Sawah Suku Kluet – Upacara Adat Aceh

Ritual Sawah Suku Kluet Upacara Adat Aceh
gasbanter.com

Suku Kluet atau Keluwet adalah suku yang mendiami sejumlah daerah di Kabupaten Aceh Selatan. Secara etnis, masyarakat suku Kluet termasuk ke dalam salah satu rumpun Batak yaitu Batak Utara.

Salah satu tradisi budaya yang masih terus dipertahankan keberadaannya adalah serangkaian upacara adat yang diselenggarakan oleh para petani selama mengerjakan sawah. 

Contohnya ketika pertama kali turun ke sawah, terus melaksanakan upacara yang biasa disebut dengan Kenduri Ulee Lueng atau Babah Lhung. Kenduri ini diadakan pada saat air mulai dimasukkan ke dalam alur yang nantinya akan mengairi sawah. 

Setelah padi berumur 1 sampai 2 bulan, masyarakat Kluet akan mengadakan Kenduri Kanji. Kenduri ini diadakan hanya berupa mengantar bubur ke sawah dan dipimpin oleh kejurun belang (juru biyo).

Kemudian saat menjelang bunting, atau padi berisi, maka dilangsungkan upacara Kenduri Sawah. Di sejumlah daerah Aceh penyebutannya juga berbeda-beda. 

Contohnya di Aceh besar biasa dikenal dengan Keunduri Geuba Geuco, di daerah Aceh Pidie diadakan Keunduri Dara Pade dan di daerah Aceh Utara ada Keunduri Adam. 

Upacara ini dilakukan oleh masing-masing keluarga petani di rumah mereka sendiri  untuk mengambil berkah. Serangkaian upacara tersebut adalah permohonan doa dan ungkapan rasa syukur kepada Allah atas limpahan rezeki yang sudah diberikan.

Baca juga: Alat Musik Suling

6. Upacara Aceh Uroe Tolak Bala

Upacara Uroe Tolak Bala Upacara Adat Aceh
gasbanter.com

Upacara Uroe Tolak Bala atau biasa dikenal dengan Rabu Aceh adalah tradisi yang dilakukan sebagian masyarakat pantai Barat Selatan Aceh setiap tahun. Tradisi ini dilakukan pada bulan Safar dengan tujuan menolak bala atau musibah.

Hal ini dipercaya pada bulan tersebut diyakini sebagai bulan dimana bala diturunkan oleh Allah SWT. Upacara ini sudah berkembang sejak lama. Awalnya tradisi ini dilakukan di pantai yang diikuti oleh semua masyarakat desa dan diiringi dengan doa bersama.

Baca Juga  Chord Jujurlah Sayang: Lagu yang Bikin Hati Tersentuh

Berdasarkan cerita tersebut, sebagian penduduk Aceh mulai menetapkan bahwa bukan Safar adalah bulan yang berbahaya. Dari sinilah terciptanya upacara uroe tolak bala untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.

Tradisi adat istiadat yang baik dan penuh rasa syukur harus kita lestarikan supaya budaya adat tidak hilang seiring dengan berkembangnya zaman.

7. Tradisi Reuhab – Upacara Adat Aceh

Tradisi Reuhab Upacara Adat Aceh
gotravelly.com

Upacara Reuhab ini begitu kental dengan budaya masyarakat Alue Tuho di Nagan Raya, Nanggroe Aceh Darussalam. Reuhab bisa diartikan sebagai ruangan sakral yang didiami ketika ada seseorang yang meninggal dunia.

Selain itu, reuhab juga diartikan sebagai barang yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal. Biasanya, barang ditinggalkan seperti pakaian terakhir yang dipakai orang meninggal tersebut dan disimpan di dalam kamar yang disakralkan selama 40 hari. 

Dalam pelaksanaan upacara ini, pihak keluarga akan mengadakan pengajian dan mengundang tokoh agama dalam masyarakat setempat. Keluarga yang ditinggalkan juga memberikan benda-benda wajib untuk didoakan.

Misalnya baju terakhir, kain dan tikar pandan yang digunakan untuk mengangkut mayat. Selain itu, ada juga dua buah guling, satu bantal kepala, mukena, Al-Quran, sprei dan harta yang belum dibagikan.

Bagi masyarakat Alue Tuho, upacara ini sangat penting dan berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Kalau tidak melakukan upacara kematian ini, maka bagi orang yang sudah meninggal bisa dianggap sebagai suatu penghinaan.

Demikianlah 7 upacara adat Aceh yang masih lestari hingga saat ini. Semoga bisa menambah wawasan dan ilmu pengetahuan baru.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments